HIKAM KE 23
لاَ تَتَرَقَّبْ فُرُوغَ الأَغْيَارِ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ
“Permohonan atau tuntutanmu dari-Nya, bukti kesangsianmu kepada-Nya. Permintaanmu kepada-Nya, bukti pengumpatanmu kepada-Nya. Permohonanmu pada selain-Nya, bukti sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Permohonanmu dari selain-Nya, bukti jauhmu dari-Nya.”
NGAJI Selasa Malam, 12 Agustus 2025
Di PP AMLAM Wonosalam
- Setiap kita dianugerahi oleh Allah sesuatu yang istimewa (yaitu sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya). Maka pergunakanlah anugerah itu dengan sebaik-baiknya sampai kita bisa menghadap Allah dengan hati bersih, pikiran jernih, suci dan wajah yang berseri-seri.
- Guru-guru kita mendidik dan mengajarkan kita dengan cara yang lembut. Maka, hendaknya kita berthoriqoh pun harus yang lembut. Thoriqoh kita bukan thoriqoh yg macem², mangamalkan laku ini dan itu, tapi thoriqoh kita adalah thoriqoh Adz Dzikr ila Allah. Thoriqotuna hiya thoriqotu-l ilmi.
- Maka proses dalm berthoriqoh itu penting. Melalui majlis ilmu, melalui dzikir, melalui penataan hati adalah proses dalam berthoriqoh.
- Bukit Tursina, Goa Hiro’ sebenarnya hanyalah tumpukan batu, dan terlihat biasa saja. Akan tapi perjalanan menuju bukit dan go’a itulah yang indah. Maka, kita nikmati prosesnya, istiqomah dalam menjalankannya.
Intisari NGAJI HIKAM KE 23
Ada ayat yang selalu diingat oleh Dr. Syaifuddin di setiap perjalanan ngaji ke majlis Hikam ini, yaitu:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ (الرعد:١٧)
- Artinya: Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.
- Ayat tersebut mengajarkan nilai sebuah keistiqomahan. Kita berniat ngaji di majlis Hikmah ini, berada di gunung, tempat yg sepi, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk, untuk sebuah nilai yaitu ISTIQOMAH. Niat kita bukan ketenaran, bukan pula untuk viral, terkenal, dll. Tujuan kita adalah ma yanfa’un naas (kebermanfaatan untuk manusia).
- Viral (ketenaran) apabila tidak disertai dengan nilai istiqomah, maka akan sirna, hilang, dan lebur. Bagaiakan buih yg (seakan) terlihat banyak dan besar, tapi buih itu menipu. Ia akan cepat hilang dab sirna.
- Di hadapan Allah hal demikian itu tidak ada nilainya, tidak ada manfaatnya sama sekali.
- Dalam hikam ke 23 ini dijelaskan bahwa Janganlah kamu menunggu hilangnya gangguan², halangan² (الأغيار) untuk memulai aktifitas, kebaikan, dan untuk memulai ibadah.
- Dalam memulai pendekatan diri kepada Allah (مراقبة), jangan menunggu hilangnya halangan atau kesibukan, menunggu tidak sibuk, menunggu longgar, baru kemudian beribadah mendekatkan diri kepada Allah.
- Kata الأغيار adalah jamak dari kata الغير yang berarti selain. Maksudnya adalah selain Allah, atau dalam istilah lainnya adalah akwan.
- Kata الأغيار juga diartikan sesuatu yang bisa membuat kita suka/ cinta kepada syahwat. Dalam Al Qur’an dijelaskan:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا. (آل عمران: ١٤)
- Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.. Itulah kesenangan hidup di dunia.
- 9. Jangan menunggu waktu longgar untk menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya. Seperti contoh: kita akan sungguh² ngaji ke majlis ilmu, beristiqomah ngaji menunggu kalau sudah tidak sibuk, menunggu saat sudah ada rizqi banyak, atau menunggu kalau warung dan usahanya telah bertambah, dll baru kemudian beristiqomah mengaji. Ini adalah niat yg salah.
- 10. Karena istiqomah itu butuh keberlanjutan, terus menerus tanpa putus. Istiqomah itu jika sudah mandeg sekali saja, maka akan terasa sulit untuk memulainya kembali.
- Hal yg demikian itulah yg bisa memutus مراقبة kita kepada Allah.
- Muroqobah itu bisa diartikan saat kita beribadah kepada Allah seakan kita melihat Allah. Maka jika kita tidak mampu melihat-Nya, niscaya Allah lah yang melihat kita. كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
- Allah telah menempatkan kita pada MAQOM masing². Jika kita ingin tau dimana maqom (posisi) kita, maka lihatlah status kita saat ini. Kita beraktifitas sebagai pengajar, pengusaha, pekerja, dll. Itulah posisi dan status kita saat ini, yg telah Allah taqdirkan untuk kita. Asalkan di dalam maqom (posisi) kita itu, tidak melanggar aturan Allah (syariat Allah), asalkan kita tidak bermaksiat kepada Allah, maka percayalah bahwa ITULAH TAQDIR YANG DIRESTUI ALLAH UNTUK KITA. Itulah maqom (posisi) yg Allah ridhoi dan Allah restui. Yakinlah.
- Dalam kondisi demikian, hendaknya seorang saalik tidak pindah posisi. Istiqomahlah. Teruslah bermuroqobah kepada Allah.
- Dalam usaha مراقبة kepada Allah, bukan berarti الأغيار itu akan hilang, akan bersih dari diri kita. Akan tetapi jadikan aghyar itu sebagai sarana (washilah) untuk terus menerus mendekatkan diri kepada Allah.
- Sebagai seorang saalik hendaknya selalu bermuroqobah. Jangan berpaling. Meskipun kita menghadapi gangguan, masalah, dan kesulitan. Karena setiap diri kita pastinya memiliki masalahnya sendiri². Masalah itu substansinya sama. Materinya juga sama. Ya, itu itu saja.
- Maka, apa yg melekat di hati kita yang selain Allah harus kita perangi, harus kita lawan. Dan berupaya agar terus menyirami hati kita dengan cahaya keimanan, sehingga hati kita menjadi lapang.
- Berjihadlah dengan apa yg kita miliki, semampu kita. biamwaalikum wa anfusikum.
- Menurut Dr. Said Ramadhan Al Buthi, makna dari al aghyar adalah ففرّوا إلى الله.
- “Kembali kepada Allah” bukan berarti meninggalkan urusan dunia sama sekali. Tetapi dimaknai dengan كثرة الالتجاء إلى الله. Memperbanyak mengembalikannya kepada Allah.
- Manusia itu ibarat anak. Senakal-nakalnya anak, pasti dia akan pulang ke rumah, mencari orangtuanya. Begitupun manusia, senakal-nakalnya manusia dg bermaksiat dan menjauh dari Allah, pada akhirnya ia akan kembali kepada-Nya, mencari Rabbnya.
- Mari kita membiasakan diri kita sedikit demi sedikit berupaya untuk muroqobah kepada Allah. Dimulai dg hal-hal kecil. Misal: saat ngopi, ngerokok, usahakan selalu berdzikir, tambah dg memegang tasbih, dll.
- Pesan dari Dr. Harisuddin Aqib (Rois Jatman) apabila telah menyelesaikan ngaji Hikam ini agar diteruskan untuk mengkaji kitab الأنوار القدسية في معاملة قواعد الصوفية.
- Apabila mempelajari Hikam hendaknya dibimbing oleh seorang Guru/ mursyid. Hikam itu akan menjadi tasawuf ilmi, dan jika dilanjutkan dengan mengkaji kitab al anwar…akan menjadi tasawuf amali. Karena Al Hikam menjadikan disiplin ilmu, bukan mendisiplinkan LAKU.
- Kita berada di majlis ilmu ini adalah bentuk berkholwat sebagaimana para Anbiya’ dahulunya berkholwat di Bukit Tursina, yg dilakukan oleh Nabi Musa. Nabi Muhammad pun berkholwat di Goa Hira’, para Sahabat Ashabul Kahfi pun demikian, dll. Yang nantinya hasil dr kholwat kita di majlis ilmu ini akan kita smpaikan (dakwah) kepada masyarakat. Kita ajarkan ilmu untuk kebermanfaatan manusia. Menyebarkan ilmu dan peradaban. Maka, perlu dibentuk dan dikembangkan dalam bentuk gerakan², harokah² di masyarakat.
- Belajar thoriqoh adalah belajar menata hati. Karena thoriqoh itu adalah sekolahnya Ruh (jiwa) manusia.