Info Sekolah
Rabu, 21 Okt 2026
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I

Majelis Al Hikam Episode 20

ما أَرادَتْ هِمَّةُ سالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ ما كُشِفَ لَها إلا وَنادَتْهُ هَواتِفُ الحَقيقةِ: الَّذي تَطْلُبُ أَمامَكَ. وَلا تَبَرَّجَتْ ظَواهِرُ المُكَوَّناتِ إلا وَنادَتْهُ حَقائِقُها: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Tiadalah kehendak dan semangat seorang salik (pengembara kerohanian) berkeinginan untuk berhenti ketika terangkat tirai rohani baginya melainkan hawatif al-haqiqah (suara-suara ghaib bagi kebenaran) akan menyeru kepadanya: “Yang engkau cari berada di hadapanmu (yakni teruskanlah dan janganlah engkau berhenti di sini)” Dan tiadalah zahir-zahir al-mukawwanat (segala ciptaan yakni segala makhluk di alam semesta) menampakkan keindahannya melainkan hakikatnya akan menyeru kepadamu: “Sesungguhnya kami hanyalah satu fitnah, maka janganlah engkau (menjadi terpedaya oleh kami sehingga engkau) menjadi kafir.”

NGAJI Selasa Malam, 22 Juli 2025

Di rumah DR. Syaifuddin Zuhri, M.Pd

  1. Barakahnya ilmu itu dengan khidmah kepada Guru. Maka, jangan sampai kita menjadi murid yang tidak tau bagaimana memuliakan guru, menghormati, melayani, dan berkhidmah atas hajat (kebutuhan) dan keperluan guru.
  2. “Al adabu fauqol ilmi”. Adab itu harus ditempatkan di atas ilmu. Itu jangan hanya dihafal dan dijadikan jargon saja. Akan tetapi pelaksanaan dan realisasinya harus dijadikan pondasi kita dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan yg dianugerahkan kepada kita.
  3. Maka, ta’addab!. Bersikaplah yang sopan terhadap guru. Contoh: Jika Sang Guru belum memulai makan, maka seorang murid jangan sekali-kali mendahului makan gurunya. Seharusnya muridlah yang mempersiapkan segala kebutuhan guru ketika hendak makan, jangkepono, ladenono, siapkan piringnya, suguhkan minumnya, siapkan tisu dan tempat cuci tangannya, dll.
  4. Memang ilmu itu al mudarosah wal mutholaah. Ilmu itu dengan membaca, belajar, memahami dan menelaah pelajaran. Akan tetapi  Nuzulul ilmi (turunnya cahaya ilmu) itu bukan karena kepintaran dan kewalian seorang guru, tapi karena kecerdasan seorang murid menangkap nilai-nilai yang diajarkan.
  5. Sebagaimana yg dicontohkan Sayyiduna Ali Radiyallahu anhu. Bahwa beliau setiap hari menunggu perintah dengan berdiri di imad Ali (tiang Ali) di depan rumah Rasulullah, dan Sayyiduna Ali tidak pernah makan sebelum Rasulullah dhahar. Ini bukan karena permasalahan ajaran salaf dan modern. Akan tetapi ini adalah AD DIIN. Ini (murni) ajaran islam. Itulah  yang menjadi asbab lembutnya hati kita. Maka, Ta’addab….!
  6. Ilmu itu bukan dari Guru. Ilmu itu cahaya Allah. Saat ada murid yg cium tangan kepada Guru itu sebenarnya adalah beban bagi Guru. Beban untuk selalu mendidiknya, beban untuk mendoa’kannya, berfikir bagaimana menemani dan mengarahkannya, dll.
  7. Ada kisah dari Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, yang setiap makan, beliau berhenti di tengah makannya dan memberikan separonya untuk muridnya. Itulah salah satu yg menjadikan barokahnya ilmu sang murid dan mengantarkannya menjadi ulama’ besar.
  8. Jangan hanya menelan ilmu Al Hikam sebagai teori saja. Tapi jadikan ilmu Hikam itu merasuk ke dalam hati. Minimal kelak menjadikan kita mampu mengajarkan kepada putra putri kita, keluarga, keturunan, dan santri² kita.
  9. Saat memulai majlis, maka muridlah yang harus mempersiapkan semuanya, tempatnya, soundnya, hidangannya, piringnya, penataan tempat, dll.
  10. Maka, harus ada yang mengatur. Diatur piketnya.
  11. Malam ini ditunjuk sebagai ketua Kelas Majlis Hikam adalah Ust. H. Maulana Ma’ruf. Untuk bagian konsumsi: Ust. Amir dan Pak Andri. Bagian sound: Ust. Firdaus Sumanto.
  12. Tingkatkan kualitas khidmah kita. Tingkatkan inisiatif kita. Jangan meninggalkan majlis kecuali dalam keadaan bersih dan rapi kembali.
  13. Beradab itu ada tingkatannya. Kita baru belajar di level pertama. Tingkatan beradab yg pertama adalah dimulai dengan ta’ddub ma’a Syaikh. (Beradab kepada Guru). Lebih meningkat lagi, ta’addub ma’a Tilmidz (Beradab kepada Santri). Ini berat, ini sulit, perlu belajar lebih. Dan tingkatan selanjutnya adalah ta’addub ma’a nafsina(beradab kepada diri kita masing-masing).
  14. Sebagaimana yg diajarkan oleh Para Ulama’ dan Guru² kita, hendaknya dalam memulai majlis kita mulai dengan mengucap ayat: Waqul jaa’al haq wazajaqal baatil…..dst. Kemudian La yatakallamuna illa man adzina lahur rohman…..dst.

Intisari NGAJI HIKAM YANG KE 20

  1. Dalam hikam yg ke 20 ini, sebenarnya merupakan SINDIRAN halus dari Syaikh Ibn Athoillah as Sakandari. Dan bukan hanya sekedar sindiran halus saja, tetapi menjadi tamparan keras bagi seorang salik (سالك).
  2. Salik (سالك); artinya orang yg sedang berjalan menuju Allah. Salik juga diartikan sebagai murid, santri, dan tholib, yang mana dalam perjalanannya ia berada di bawah bimbingan seorang mursyid (guru).
  3. Dikatakan bahwa tekad seorang سالك (orang yg berjalan meniti jalan menuju Allah) tidak akan berhenti setelah mendapatkan makrifat, rahasia, dan cahaya-cahaya Ilahi. Maksudnya adalah dalam perjalanannya, seorang salik bisa jadi mendapatkan “mukasyafah” (dibukakan tabir oleh Allah), diberikan kelebihan oleh Allah, seperti bisa membaca hati orang lain, bisa menebak nasib orang, bisa menjelaskan rahasia² Allah, seakan-akan salik tsb diberi anugerah dan kelebihan di luar nalar (khorij anil aadah) yg luar biasa, di luar kemampuan manusia biasa.
  4. Maka, seorang salik “JANGAN TERLENA”. dengan pengalaman² itu. Jangan sampai memandang bahwa makrifat, mukasyafah dan maqam yang telah diraihnya merupakan tujuan utama dan akhir dari perjalanannya.
  5. Apabila seorang salik telah mengira bahwa saat dia sudah mampu mukasyafah itu artinya dia sudah sampai tujuan, maka dia telah TERJEBAK. Minimal kalau sudah sampai batas itu, paling tidak dia akan menjadi dukun, apabila ia tidak menyadarinya.
  6. Hawatif (suara tanpa rupa) yg berupa bisikan-bisikan hakikat Ilahi akan menyeru hatinya agar tidak berhenti sampai di situ. Suara itu menyeru: “Karena apa yang kau cari ada di depanmu. Masih jauh”. Apa yang dicari dan diinginkan seorang salik adalah الوصول إلى الله “sampai kepada Rabbnya”, bukan sampai kepada sesuatu selain Allah.
  7. Terkadang seorang salik diberikan karomah oleh Allah itu dengan bermacam² bentuk. Seperti bisa mengobati orang sakit, bisa berjalan di atas air, bisa mengetahui yg akan terjadi, dll. Orang yg mendapatkan karomah sebelum الوصول إلى الله itu artinya dia محجوب. Akan tetapi karomah setelah الوصول إلى الله itu adalah hadiah (bonus) dari Allah.
  8. Sadarilah, sebagaimana firman Allah: “innama nahnu fitnah. Fala takfur”. (Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangan kau ingkar!).
  9. Karomah itu ternyata adalah fitnah (cobaan). Bahkan harta dan anak turun kita adalah fitnah. Innama amwalukum wa awladukum fitnah….dst.
  10. Kemampuan salik (السائر إلى الله) itu macam². Ada yg cepat, ada yg lelet, ada yg lambat. Maka jika kita sudah mukasyafah, hendaknya jangan ge er. Sejatinya perjalanan kita itu masih jauh. Sampai kita mendapat predikat “al washil”. Dalam riwayat disebutkan al waashiluun di dunia ini itu jumlahnya mencapai 124.000 di masing² zaman. Sangat banyak.
  11. Kita mengira bahwa jika kita sudah kasyaf, itu artinya kita sudah sampai. Padahal itu sebenarnya hanya hijab. Maka, hati². Ojo ge er, ojo gaya², ojo kepedean. Fokuslah pada tujuan utama yaitu RABB.

TAMBAHAN

  1. PUNCAK KAROMAH ADALAH KEISTIQOMAHAN DI DALAM KETAATAN KEPADA ALLAH, BAIK DALAM KEADAAN SEPI MAUPUN DALAM KERAMAIAN.
  2. Karomah wal mukasyafah itu sebagian dari haidh nya para Ulama’.
  3. Diplihnya majlis ini di malam Rabu, karena dalam riwayat disebutkan bahwa turunya Ilmu Allah itu pada hari Rabu.
  4. Memaknai الوصول إلى الله secara sederhana adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat: fa’budullah hatta ya’tiyakan yakin (al maut). Dan khoirunnass ahsanuhum khuluqon wa anfauhum linnas. (Sebaik-baik manusia adalah yg paling baik akhlaknya dan yg paling bermanfaat bagi sesama manusia).
  5. Esensi dan urgensi dari tasawuf adalah memberikan nilai dan nyawa kepada sesuatu yang kita kerjakan di dunia dan di akhirat.