Info Sekolah
Rabu, 21 Okt 2026
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I

ALUMNI ABU SITTIN YANG “TAK LAZIM”

Beberapa hari yang lalu, sebelum kami berangkat ke Jember, ada tamu datang dari Lumajang. Ustadz Zafier guru pengabdian dari Gontor itu menjelaskan kepada kami bahwa orang tua dan kakek beliau datang ke AMLAM, karena tidak ada janji sebelumnya, maka rombongan keluarga Ustadz Zafier menunggu sampai agenda kami sore itu, rapat dan kemisan guru selesai terlebih dahulu, baru bisa menjamu beliau. Ternyata yang datang adalah kakek beliau alumni PMDG tahun 1966 beserta istri datang dari Lumrah.

Beliau mengawali percakapan dengan menanyakan sejarah berdirinya Amlam, hingga amalan tirakat apa yang kami amalkan, menurut beliau Amlam pesantren yang luar biasa, 4 tahun berjalan sudah berdiri megah masjid dan semua fasilitas santri telah sempurna, tidak hanya sempurna tapi begitu nampak indah dan menyejukkan, begitu komentar beliau.

Pertanyaan menanyakan amalan dan tirakat kepada kami yang junior, padahal beliau alumni 60-an, adalah pertanyaan yang tidak lazim, karena umumnya dan kebanyakan yang terjadi para senior almamater biasanya datang dengan dada yang busung, kepala yang tegak, dan mindset mereka para senior kebanyakan menganggap semua juniornya adalah anggota (a’do’) mereka, maklum herarki senioritas yang kuat di masa lampau di Pesantren bisa jadi membekas dalam benak kami semua, termasuk saya mungkin. Dan yang lebih mencengangkan adalah beliau KH. Mohammad Thohir yang sedang merintis pesantren dengan mantan ketua PCNU Lumajang ini berbincang dengan kami dengan bahasa Jawa halus (kromo) dan menyimak dengan seksama penjelasan dan hujjah yang kami sampaikan kepada beliau dan rombongan. Ini luar biasa, patut menjadi contoh.

Setelah saya desak, kenapa beliau bersikap seperti ini, karena mendapat banyak cerita dari cucunya tentang saya dan Amlam, termasuk tradisi berbahasa kromo (Jawa Halus). Dan beliau menyatakan hatinya harus tunduk setelah masuk Amlam, merasa bergetar dan ingin ngangsu kaweruh (menimba ilmu) dari perjalanan Amlam dan seluk beluk susah senangnya. Alhasil obrolan malam itu begitu berkelas, beliau menampakkan ke kekagumannya ke Amlam dan sungguh sayapun kagum melihat beliau yang sangat tawadhu’ dan bersahaja.

Anda para pembaca, pasti penasaran jawaban saya tentang amalam dan tirakat Amlam, silahkan datang ke Amlam bawa CK, karena tidak mungkin akan kami tulis di lingkungan umum seperti wall medsos ini. Matur Milyun Sekelangkong.

OLEH : KH. FAHRIZAL ISCHAQ ADDIMASQIE, LC., M.FIL.I