NGAJI HIKAM ke-58, KTA Krian
- أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين
- “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
- Tidak salah kalau kita memerkan ketaatan kita kepada Allah. Maka baik, jika mujahadah kita didemonstrasikan kepada Allah.
- Lelah kita, susah kita, rintihan istri kita ketika kita tinggal ngaji, itu yang kita persembahkan.
- Malulah jika kita tidak mau menyendiri bersama Allah, malah memilih bersama orang lain.
- بل هو آيات بينات في صدور الذين أوتوا العلم
- “Itulah ayat-ayat yang sangat jelas yang dititipkan oleh Allah di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”
- Yaitu, apabila orang-orang yang senantiasa terngiang-ngiang ayat Allah. Itulah yang namanya petunjuk yang ditancapkan di dalam hati kita.
- Kita dzikir/ibadah istiqomah agar pantas untuk mendapatkan ayat-ayat itu.
- Shudur artinya dada, maksudnya adalah hati.
- Dalam surat An-Nisa’ Allah berfirman: “Katakanlah, semuanya itu dari Allah.” Tapi kalau yang buruk-buruk itu terjadi atas kelalaian kita.
- Hikmah kali ini, berhubungan erat dengan ketaatan kita.
- Dalam ilmu tasawuf, yang menjadi pusat segalanya adalah Allah.
- Kita itu tidak ada, yang ada adalah Allah dan irodahnya Allah.
- Kita ada karena irodahnya Allah.
- Semakin kita mendekat kepada Allah, yang tampak hanya Allah.
- لا تفرحك طاعة لأنها برزت منك وافرح لأنها برزت من عند الله
- “Jangan bangga karena taat yang kau kira itu hasil dari upayamu. Tapi, banggalah karena itu adalah anugerah dari Allah.”
- Orang taat itu ada 2 (dua):
1. Hasil usaha / belajar taat
2. Ketaatannya adalah pemberian dari Allah
- Yang beranggapan bahwa ketaatannya adalah hasil upayanya, akan menjadi hijab antara dia dan Allah.
- Dalam kehidupan kita sehari-hari contohnya, jadi dosen/dekan, kalau diyakini itu adalah hasil usaha, itu adalah bentuk kesombongan.
- Maka, berhati-hatilah dalam menyikapi segala yang terjadi dalam hidup kita.
- Tunjukkan bahwa rahmat Allah itu luas. Jangan sedih.
- Nabi Isa pernah ditanya: kok banyak tertawa, seperti orang yang tidak ingat akan adzab Allah? Dijawab, orang yang selalu bersedih itu seperti orang yang tidak ingat akan rahmat Allah.
- Kalau kita ingat Allah, tidak ada sesuatu yang tidak indah. Dan surga itu indah tidak tersekat-sekat oleh nafsu keinginan.
- Syeikh Sa’id Romadhon Al-Bouthy: وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون (Jangan kau kira mereka orang-orang yang beriman kecuali mereka mengumpulkan serpihan-serpihan kecil kesyirikan.
- Semoga kita digolongkan ke golongan yang sedikit, karena وقليل من عبادي الشكور (Dan sedikit di antara hamba-hambaKu yang pandai bersyukur).
- Banyak orang yang jika diberi kesulitan-kesulitan muntah. Padahal Rasulullah saja wafat dalam keadaan meninggalkan baju besinya masih di pegadaian.
- Sakiki, neng kene, ngene, aku gelem (sekarang, di sini, dalam keadaan ini, aku mau).
- Boleh kita memimpikan pesantren yang akan kita bangun, padahal kita sedang dalam kemelaratan.
- Mosok الله أكبر kok kalah sama hutang kita.
- Allah itu hadir dalam setiap urusan kita, hanya sering kali kita salah konsep.
- Seringkali kita bandingkan mobil orang lain dengan sepeda kita.
- Kita ini meski bersama,gurunya sama, tapi thoriqoh atau jalan hidupnya masing-masing berbeda. Ada yang jadi ustadz, pedagang, tukang tambal ban, pedagang minyak wangi, yang penting semuanya berdzikir.
- Banyak orang bisa naik sepeda, tapi tidak banyak yang bisa naik sepeda dengan kecepatan tinggi, apalagi di tikungan.
- Rajinlah memotong kuku, artinya jangan suka mengaku-aku. Itu kata-kata orang dahulu.
- Maka segala sesuatu yang kita dapat, termasuk hadirnya kita di tempat ini adalah fadhol dari Allah.
- Jadikan seluruh aktifitas kita, sampai tidur, dimarahin, sebagai aktifitas dzikir kita.
- Jangan merasa lebih dari orang lain. Tawadhu’ itu adalah kata kunci.
- Jaga butuhmu terhadap do’a. Jangan merasa aman dengan apa yang kita punya bahkan amal kita.
- Tafakkur, hindari nafsu duniawi.
- Uzlah/khalwat, menarik diri dari urusan dunia.
- Tasawuf adalah sebuah rumah yang dirajut oleh para sufi di generasi pertama lalu dibangun oleh Imam Al-Ghozali dan interiornya oleh Syekh Ibn Athoillah As-Sakandary.