
Saya kira” sudah 11 tahun mengabdi di pesantren yang lama dengan keluarga besar tentu dengan istri saya dengan mertua, adek saya sebelum sebagian mereka masih ada di pesantren .
Latar belakang berdirinya amanatussalam tentu punya keterkaitan dan tentu tidak bisa di pisahkan dari sejarah pesantren yang lama, tahun 2019 kira”
Tahun 2016 saya berangkat ke turki ada salah satu sodkos yang di situ banyak bertemu pemikiran” baru oleh Said an Nursi kemudian saya pulang saya mampir atau menjenguk para santri yang ada di pesantren lama itu di salah satu pesantren yang ada di lereng gunung Anjasmoro ini. Saya melihat pengasuhnya adalah adek kelas saya dan sangat pendiam, saya merasa terpanggil hati saya untuk bisa mendirikan pesantren yang sama jika dikatakan tidak lebih baik di lereng gunung anjasmoro ini daerah wonosalam jombang tapi udah sudah berlalu dan sekitar tahun 2017 saya ke luar negeri kembali ke Uzbekistan di situ ada undangan dari guru kami festival bultaqo assyufi annaksabandi pertemuan para guru naksabandi dari seluruh dunia, saya banyak berdiskusi dengan guru saya pada waktu itu tentang perkembangan dakwa, perkembangan suasana kebatinan kami di Indonesia dalam berdakwah atau mengabdi di bidang kepesantrenan, lantas ada perintah dari guru kami “ ya fahri kamu harus mendirikan pesantren sendiri ” saya asing dengan kalimat itu tapi ketika saya pulang saya berangan-angan bahwa rupanya perintah guru yang saya dapatkan di Uzbekistan itu dalam satu multaqo internasional itu memang benar” memancap di hati saya, kemudian saya pulang saya survei tanah kesana kemari kesana kemari dan saya bertemu kyai ghozali pengasuh pesantren bumi al qur’an serengah 2 malam di bulan Ramdhan saya matur ke beliau “ tolong saya carikan tanah di lereng gunung anjasmoro ini kira” 1 hektar yang harganya bisa di cicil sebisa saya ” kami keliling ke tanah” itu ada yang 2 hektar, 4 hektar, 5 hektar, 12 hektar ke semuanya harganya miliaran hanya tersimpan 1 tanah ini di amlam inilah tanah kurang lebih 1 hektar bisa di dp sebisanya dan bisa di cicil sebisanya bayangkan Allah menyimpan sesuai apa yang kita katakan

lalu saya sholat pulang dari Uzbekistan saya sholat lagi di tanah ini di wonosalam ini bergetar hati saya padahal waktu itu saya ke batu, ke trawas, ke tretes, ke pacet di daerah pegunungan saya fikir setelah lama tinggal di dataran rendah mungkin saya perlu untuk mendinginkan suasana hati saya di dataran tinggi dan agar nyaman mendidik para santri pada waktu itu. Singkat cerita tanah di amlam ini saya dp 50 juta masih kurang sekian ratus juta dan guru saya datangkan untuk peletakan batu pertama ini kadang” menjadi lelucon ada perintis pesantren di dp 50 juta sudah diresmikan belum lunas dan peletakan batu pertama hanya 50 juta dari sekian ratus juta yang ada di harga itu kalau tidak salah 480 sekian, datanglah pemilik tanah tersebut “ kenapa tanah saya baru anda dp tapi sudah pelatakan batu pertama ” “ oh tidak tanah itu kita doakan bersama” guru saya ingin melihat tanah yang saya dp di doakan bersama sama ” saya pura” begitu setelah itu beliau berkata “ kalau begitu ada ulama datang kita bantu ” kita negosiasi dengan yang punya tanah “ kalau tanah ini tidak jadi kita beli maka uang dp 50 juta itu anda ambil saja tidak masalah tapi Alhamdulillah tanah ini akhirnya dilunaskan oleh Allah SWT dengan banyak bantuan oleh banyak pihak Alhamdulillah.
Maka itulah awal pesantren ini yang pertama adalah perintah guru kami datang dari guru kami mursyid kami syekh rajab subhiddib dan peletakan batu pertamanya oleh putra beliau Dr Syaikh Muhammad Rajab Dieb dengan putra beliau Syaikh Umar dan asisten beliau Syaikh Mahmud Sahada dan seterusnya, dan dengan 11 kyai waktu itu perintah guru, latar belakang berdirinya pesantren ini adalah ketaatan kepada perintah guru itu yang pertama, yang kedua visi pesantren tentu saya berharap pesatren ini bisa berkembang, memberikan manfaat kepada semuanya dan kemudian mencetak khuddamul ilmI pelayan” ilmu, pelayan” umat gusti kanjeng nabi Muhammad Saw itu garis besar saya ingin menciptakan orang” yang melayani ilmu, melayani umat, peduli akan kepedihan umat, peduli akan kerusakan umat dan seterusnya.