Info Sekolah
Rabu, 21 Okt 2026
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I

PEREMPUAN BERPERAN AKTIF DI AMLAM

Dahulu saat Rasulullah Saw tiada, maka komando diambil alih oleh Sayyidah Aisyah, bahkan beliau istri nabi yang sempat memimpin peperangan, saya mengenal beliau tidak hanya perempuan cerdas tapi juga tangguh. Pantas saja istri saya mengidolakan sayyidah Aisyah hingga dulu nama penanya saat di Kairo adalah Veeza Aisyah.

Bu Nyai Amlam, Ummul Ma’had, Ibunya pondok, ibunya para santri dan guru yang biasanya ngurusi dapur, ngurusi prasmanan, dasteran mondari-mandir ruang tamu dan dapur, yang selalu sigap dan selalu bertanya jumlah pasti tamu yang datang, meski saya selalu gagal untuk menjawab atau menjawab sekenanya, karena memang kelemahan saya untuk ikut campur hal yang remeh dan kecil, bukan masalah, ini memang soal berapa piring dan sendok yang disiapkan, porsi makanan, bahkan hingga oleh-oleh yang harus dibawakan, harus sesuai dengan usia dan latar belakang tamu, karena tidak mungkin tamu kurir paket kita kasih hadiah sarung BHS kan?

Kali ini, Bu Nyai Amlam tampil cantik, setelah outer hitam bahan jaz yang elegan, ingat saya beliau terakhir memakai ini mendampingi saya saat ke Jakarta menghadiri acara Syeih Rojab Dieb atas undangan khusus beliau. Bukan tanpa alasan, saya sedang sakit, sudah membaik, tinggal suara saya yang habis ludes, efek batuk dan demam lebih dari seminggu. Saya paksa beliau menggantikan saya melantik dan memberikan wejangan kepada pengurus Dewan Santri PP. Amanatussalam. Suaranya lugas, tidak mendayu-dayu kemendel, sambutannya juga baik, singkat dan mengena substansi topik dan tema acara. Sungguh seperti Sayyidah Aiysah. Jika Anda menginap di Amlam, Anda akan mendapati Aisyah Amlam ini membawa penjalin “nyambleki” santri putra yang terlambat ke Masjid saat jamaah Subuh di masjid, bahkan pernah suatu hari, saya Imam Subuh diberhentikan tidak boleh takbir “Sebentar Bi, kita tunggu santri putra yang terlambat!” Jebag-jebug, sambil nyambleki santri putra yang terlambat. Imam Subuh, meski jenggotnya panjang, tinggi besar, mendengar kalimat itu, langsung lemes tak berdaya, Jamah subuhpun delay sekitar 10 menit.

Di saat banyak pesantren tidak banyak memberi ruang kepada perempuan, Amlam memberikan perempuan porsi yang sama terhadap peran perempuan, ini madzhap saya mungkin salah, biar saya yang tanggung. Di Amlam perempuan punya hak untuk bisa salat di shaf pertama, bahkan sesekali santriwati senior saya minta memimpin doa setalah salat di masjid, tetap ada sater pembatas, sopan dan kena pada substansi. Tetap tidak boleh adzan dan ngimami, tetap faham qadrat, tapi harus punya peran. Bukankah di masjid nabawi juga begitu, perempuan tidak selalu di belakang, shof depan dibagi dan jam ke roudhah juga dibagi, ini Fair menurut saya. Jujur, saya prihatin, pernah saya temukan di benerapa pesantren, istri guru bahkan istri Kiai, hanya menjadi pendamping suami saja, tidak ada panggung, tidak ada mic bahkan yang memprihatinkan, saat sang suami meninggal dunia, peran dan fungsinya sebagai pendamping sejarah hilang total, nyaris tanpa peran, perannya hanya bercerita tentang mendiang suami saat sebelum wafat.

Saya menyadari, istri sayalah yang paling faham Sejarah Amlam setelah saya, beliaulah istilah kata orang yang paling lengkap mendapatkan cerita dari saya, suka maupun duka. Beliaulah orang yang pertama kali percaya setelah mendengarkan cita-cita dan mimpi saya membangun peradaban bernamakan pesantren, setelah saya mati nanti biarlah beliau yang akan rapat dengan para guru, pengurus dan anak-anak saya, siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan amanatussalam.sch.id dengan semua aset dan potensinya. Kalau tidak karena tangisan putri KH. Nurcholis Misbah ini, mungkin saya sudah hutang Bank Miliaran rupiah untuk merintis pesantren, dan bisa jadi sampai hari ini menanggung hutang tersebut, alhamdulillah Amlam sampai hari ini dalam membangun fasilitas santri nol rupiah hutang dari Bank.

Bismillah, Allah Ma’aki Ya Ummal Ma’had. Saya tidak akan selamanya hidup, umur saya masih belum tua, tapi beban tanggung jawab saya semakin berat, kesehatanpun sering diuji, ada lebih 9 pesantren, ribuan lebih santri, ratusan murid dzikir tersebar di beberapa kota dan provinsi, semuanya harus saya asuh, saya dampingi dan terus didoakan. Ini tanggung jawab besar, doakan, doakan, doakan. Anti Khirata Min Hubbi Ya ‘Aini. Wallahu Khoirul Musta’an.