Info Sekolah
Rabu, 21 Okt 2026
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I
  • “Tetapkanlah hidup, api membara mimpimu Walaupun langit ini runtuh, karna Allah akan tetap berdiri untukmu, dan rencana kan mimpi - mimpimu, kehidupanmu, karna orang - orang sukses lahir dari rahim kesulitan” - KH. Fahrizal Ischaq Addimasqie, Lc., M.Fil. I

PESANTREN DIBAWAH LERENG ANJASMORO WONOSALAM JOMBANG

Hari musamahah (libur) saat ujian di Gontor merupakan salah satu peluang membaca ulang materi-materi ujian yang komplek. Materi tidak hanya sekedar 5 pelajaran, bisa 20 hingga 25 pelajaran yang harus ditelaah berulang kali. Dan uniknya materi ujian di Gontor tidak ada satupun soal pilihan, semuanya esai & harus mampu menjawab serta menjabarkan dalam lembar jawaban yang disediakan oleh panitia.

Disaat hari musamahah kami sekeluarga sempatkan untuk sambang ke tanah kelahiran di Jombang sekalian nyekar (ziarah makam) buyut di desa Plosogeneng sebuah desa sebelah barat Pesantren Tambakberas Jombang tepatnya sebelah barat kampus Universitas Wahid Hasyim.

Jombang merupakan salah satu kabupaten yang dikelilingi banyak pesantren besar maupun kecil bahkan rintisan, disisi Utara ada pesantren tergabung dalam Yayasan Bahrul Ulum, di sisi selatan terdapat pesantren Tebuireng, Paculgowang yang tergolong pondok pesantren tua, di sisi barat terdapat pesantren Mambaul Ulum Denanyar dan disisi timur ada juga Pondok Darul Ulum. Julukan kota santri memang melekat pada kota Jombang karena secara kultur banyak pesantren tersebar di sebagian daerah di kota tersebut. Dan tidak dpat dipungkiri banyak tokoh-tokoh nasional muncul dari pesantren-pesantren yang ada di kota Jombang.

Di hari itu pula kami sekeluarga menyisir daerah selatan kota Jombang, Wonosalam, salah satu daerah yang terkenal sejuk hawanya, karena secara topografi tanahnya dibawah lereng perbukitan dan termasuk kawasan hijau, banyak tanaman khas yang tumbuh subur disana termasuk Durian khas Wonosalam, coklat, kopi, cengkeh dll mengelilingi daerah tersebut.

Disebuah kota terpencil selatan kota Jombang ini ternyata ada juga Pondok Pesantren Alumni Gontor yang terletak di desa Wonokerto yang mulai dirintis pada tahun 2019. Pondok tersebut diberi nama Amanatus Salam (AMLAM) yang dirintis Kyai Fahrizal Ischaq alumni Gontor 2005 dan ternyata juga mengadopsi kurikulum KMI. Dengan dibantu 9 guru aktif yang mengajar disana serta 1 kelas dihuni 25 orang santri, beberapa bagian telah terlihat berdiri mulai masjid, kantor guru, asrama santri, ruang tamu bahkan Villa khusus tamu spesial. pesantren AMLAM sendiri mengawali rintisan yang tidak mudah sebagaimana penuturan kyainya. Sepanjang obrolan mulai pukul 08.00 – 11.30 Wib banyak hal yang diungkapkan, suka duka merintis pesantren tumpah ruah dan sayapun menjadi pendengar yang baik memahaminya. Beberapa hal pernah juga saya rasakan saat awal berdiri Pondok Cabang Gontor ke 5 di Magelangt pada ahun 2000, menghadapi masyarakat yang serba komplek, merintis beberapa bagian & unit usaha, membina masyarakat dalam wadah pengajian rutin mingguan pembinaan TPA, pembinaan komunitas pemuda, pembinaan simpatisan-simpatisan Pondok dan lain-lain. Dalam bahasan Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi, “Membuat pagar mangkok”, karena pagar mangkok bisa jadi lebih kuat daripada pagar beton. Istilah mangkok sendiri dianalogikan sebuah makanan yang disajikan secara sederhana, mengambil hati seseorang dengan cara sederhana, berbagi dengan masyarakat entah hanya sekedar makanan atau minuman sederhana, rokok atau hanya sekedar nongkrong bersama (majelisan) itu semuanya akan memunculkan simpati yang natural bahkan sampai siap pasang badan jika pondok diganggu oleh orang lokal maupun asing.

Obrolan santai di Pondok Amlam bersama Kyai Fahrizal & Ustad Nur Kholis (angkatan 1994) dengan ditemani wedang uwuh, kopi & camilan khas Wonosalam dengan suasana hawa dingin lereng perbukitan Wonosalam membuat tak terasa sudah 4 jam nongkrong. Dimulai obrolan ringan soal pesantren AMLAM, kemudian sedikit agak sedikit berat tentang pendaftaran Gontor, mengulang kembali kajian Kepondokmodernan, kajian histori Gontor lama & baru sampai kajian Pesantren Tegalsari yang merupakan asal mula pendirian Gontor.

Banyak orang membaca sejarah Gontor, bahkan masih ada yang mengatakan Gontor Lama itu adalah Tegalsari. Padahal Gontor sendiri bermula dari pasangan Kyai Sulaiman Jamal dan Nyi Sulaiman Jamal (Putri ke 4 Kyai Cholifah) Tegalsari. Kyai Sulaiman Jamal sendiri dibekali 40 santri saat itu diamanahi oleh Kyai Cholifah (Putra ke 6 Kyai Ageng Muhammad Besari) untuk babat alas ke arah timur Tegalsari, hanyamenunjukkan arah dengan jari dan dalam perjalanan babatnya banyak sekali rintangannya bahkan saat babat pertama beliau sempat balik kembali lagi ke Tegalsari setelah menemukan banyak sekali bangkai mayat manusia pada saat perjalanan babatnya, dan pada akhirnya kembali lagi melanjutkan perjalanan babatnya hingga sampai ke desa Gontor.

Mengkaji Gontor lama pastinya akan mengkaji sejarah berdirinya mulai Rintisan Kyai Sulaiman Jamal, Kyai Archam Anom Besari, Kyai Santoso Anom Besari, dan berbicara Gontor Baru pastinya akan mulai kajian berdirinya Tarbiyatul Athfal (TA) pada 1926, Sullamul Muta’allimin (SM) pada 1932 hingga berdirinya Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah ( KMI) pada tahun 1936 zaman Trimurti (Kyai Ahmad Sahal, Kyai Zainuddin Fannanie & Kyai Imam Zarkasyi).

Merintis pesantren tidak mudah tapi yang terpenting bermodal NIAT TULUS dalam perjuangan membina Ummat, apapun yang akan terjadi saat perjalanan rintisan harus dihadapi bukan menghindar dari sebuah suluk (perjalanan) rintisan pesantren. Banyak orang dalam merintis pesantren sudah salah niat awal sehingga dalam perjalanannya justru tertatih-tatih mengembangkannya. Niat merintis pesantren dengan bangunan indah, fasilitas yang serba komplit, pesantren berteknologi tinggi, pesantren dan lain sebagainya, mereka lupa diantara semua yang direncanakan untuk berdirinya pesantren itu ada PROSES, mulai proses awal bersinergi dengan masyarakat, proses pembangunan bangunan, proses pembinaan guru, proses pembinaan calon wali santri, pembinaan santri dan proses-proses lainnya. Semua proses diatas tentu banyak sekali hal-hal yg harus dilalui dan itu mahal harganya. Dengan proses itu tentunya juga akan banyak nilai yg akan dipetik sang Kyai, guru & murid.

Hal penting yang perlu di ingat bahwa, “yang menggerakkan hati calon wali santri & calon santri itu Allah”, apapun yang diupayakan manusia tanpa Munajat kepada Allah akan tetap terasa hampa tanpa-NYA, apalah manusia. “Sekenario Allah itu jauh lebih indah daripada keindahan Sekenario manusia di dunia”, Apapun yang di rencanakan manusia di dunia jangan sekalipun merasa jumawa meskipun didukung materi yang berlimpah, Sekenario manusia belum sampai pada tombol akhir perencanaan sempurna karena Tombol Approval/ Assesment ada ditangan ALLAH. Syarifah Ponorogo, Fahrizal Ischaq Addimasqi Sandiaga Michael