Oleh : KH. Fahrizal Ischaq Addimasqi, Lc., M. Fil. I.
Pimpinan Pesantren Wisata Amlam, Junwangi2, Wonosalam, Jombang.

Mengutip dari kalam mutiara hikmahnya Ibnu Athoillah As-Sakandari bahwa sesungguhnya semua yang terjadi, baik buruknya, susah senangnya dan mudah sulitnya kesemuanya adalah murni kehendak dan hasrat dari Tuhanmu Allah Swt. Ini membuat kita menarik kesimpulan bahwa semua yang terjadi tidaklah perlu ada yang dikhawatirkan apalagi mengejarnya mati-matian, sungguh mengejutkan kalimat ini.
Saat saya menulis artikel ini, saya didampingi seorang sahabat, beliau mengikuti kajian kitab Hikam kami setiap hari Selasa di Wonosalam, tempat kami mengasuh pesantren, beliau “nyupiri” saya, dan memang setelah bertemu dengan orang tuanya, disampaikan cita-citanya sejak kecil adalah ingin menjadi pendamping Kiai, kebetulan pria kelahiran Malang ini keahliannya adalah mengemudi, jika menjadi sekretaris pendakwah mungkin tidak cocok, karena minimal harus memahami bahasa Arab dan sedikit punya kemampuan menejerial dan administratif kelembagaan, biasanya masyarakat yang ingin mengundang saya ceramah lebih banyak lewat sekretaris dan kemudian beliau mendampingi kami berdakwah keliling Indonesia, walhasil cocoknya bapak dua anak ini adalah pegang kendali pengemudi dan tidak mungkin menjadi sekretaris seorang kiai.
Singkat cerita dulu sebelum mendampingi kami, aktifitas beliau adalah trading dan pemborong besi tua, sehari mungkin bisa mendapatkan uang 100-200 ribu rupiah. Sekarang setiap kami minta bantu untuk mengantarkan kami jawabannya selalu “siap gus!”, dalam arti yang sama semua beliau tinggalkan termasuk aktifitas kasbur rizki-nya langsung ditinggalkan, teori ekonomi mengatakan per hari minus 200 ribu rupiah jika beliau mendampingi kami. Ajaibnya, kejadiannya justru terbalik, baru saja kami dibisiki, memang tidak bisa kerja normal saat mendampingi saya, tapi selalu mendapatkan order besar (big order) setiap beliau meninggalkan pekerjaannya, sekali telpon bisa meraup keuntungan belasan juta rupiah, ini kan jelas tidak masuk akal. Kerja mendapatkan sedikit dan meninggalkan kerja justru mendapatkan uang ratusan kali lipat. Subhanallah.

Terkadang kita terlalu sering untuk merencanakan hal-hal yang jauh, hal-hal yang besar, minggu depan kita harus seperti apa, bulan depan kita harus untung berapa, target tahun depan, 10 tahun lagi kita harus bisa meraih apa. Dalam waktu yang sama, kita lupa mensyukuri hal-hal kecil kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, kita bisa bernafas lega, kita bisa berjalan tanpa rasa sakit di kaki kita, bahkan kita bisa tidur dengan mudah, seakan semua itu tidak ada harganya, padahal di sana ada banyak orang yang sulit tidur, bahkan kalau mau tidur harus disuntik tidur terlebih dahulu, sangking sulitnya dia mendapatkan nikmatnya tidur. Bayangkan dalam satu tahun harus berapa puluh juta rupiah yang dia keluarkan hanya untuk sekedar tidur. Dan kita tidur dengan gratis. Allah karim.
Ayah dari ananda Abid yang memilih menjadi supir kiai tadi, mungkin bukan seorang sarjana, secara rumus ekonomi mungkin bisa dibilang not make sense, tapi dia begitu menikmati kesyukuran keberadaannya mendampingi seorang pendakwah begitu ia syukuri, walhasil Allah balikkan keadaan, dia mendapatkan ratusan kali lipat seperti hari biasanya. Bersyukur dengan hal kecil adalah kunci untuk mendapatkan sesuatu yang besar, bahkan suami dari guru TK itu sering “disemoni” orang “oleh koyo, tapi gak kethok nyambut gawene” artinya dapat pemasukan finansial, tapi tidak terlihat kapan dia bekerja. Sungguh ini adalah “tangan” Tuhan yang nyata dan sekenario Allah tidak akan pernah masuk akal.
Sederhanakanlah kebahagiaanmu, mulailah dari yang kecil, mari kita berlatih bersyukur dari mulai kita bisa tidur, bisa sujud di hadapan Allah tanpa rasa sakit di lutut, menelan makanan tanpa tersedak, bisa membuang kotoran dari tubuh kita tanpa jeritan rasa sakit. Tidak perlu kita menunggu bersyukur setelah kita miliki rumah mewah, mobil impian dan keliling dunia, karena kami pernah pergi ke Damaskus dan Istanbul dengan kaki yang cedera kemudian ditinggalkan rombongan dan hampir ketinggalan pesawat itu rasanya sakit dan menyedihkan. Kesehatan, pasangan hidup yang baik, anak-anak yang berbudi adalah nikmat yang tidak akan pernah bisa dibeli, meski dengan ratusan miliar. Buktinya Raisa Sang Penyanyi dan Ridwan Kamil mantan Gubernur Jawa Barat yang notabene pasangan yang ideal dan mesrah di depan kamera, buktinya bercerai to? La’allakum tatafakkarun! Agar kita semua berfikir!.
No responses yet