RESTRUKTURISASI RUHANI ITU PERLU

Latest Comments

No comments to show.

Oleh : Fahrizal Ischaq Addimasqi
Pimpinan Pesantren Wisata Amlam, Wonosalam, Junwangi 2

Sepanjang kita masih di dunia, maka kita akan pasti akan terus diuji dengan ujian kita masing-masing. Karena dunia adalah rumah ujian (darul Imtihan) dan akhirat adalah rumah pembalasan (sudah tidak ada ujian). Nyaris tidak ada dan belum ada satu manusiapun yang bisa lolos dari ujian. Bukankah Rasulullah Sang Manusia Sempurna juga diuji? Bahkan lebih pedih dan menyakitkan dari rata-rata ujian yang kita alami.

Jika kita tau bahwa kita pasti akan menghadapi ujian kita masing-masing, maka pertanyaannya apa yang kita butuhkan dan kita siapkan sebelum fase itu datang, jawabannya adalah ilmu, ilmu itu lewat ngaji. Kita butuh Ngaji agar kita kembali merestukturisasi ruhani kita, agar kembali tenang seperti fitrahnya yang diberikan Allah kepada kita. Ruhani kita akan terus diterpa, dan kita terus melatihnya agar terus bisa “canggih” dan tenang jika terkena musibah dan ujian saat tiba. Ketenangan dibutuhkan agar kita bisa memilah mana yang “racun” dan mana yang “madu”, lalu memilahnya, sehingga kita bisa mengambil pelajaran (baca: hikmah) dari setiap kejadian.

Ruhani kita harus terus kita latih, jika mendapatkan nikmat maka tidak senang yang berlebihan, dan jika mendapatkan ujian juga tidak sedih berkepanjangan. Ruhani yang tenang selalu bisa mengkondisikan dengan cepat jiwa dan diri kita dalam ketidakteraturan kondisi yang kita alami, alhasil; sedih tenang, senang tenang, kaya tenang, miskinpun juga tenang. Seorang pedagang laris dan sepi tak lagi penting karena tujuan berdagang adalah refleksi dari apa yang dijalani nabi besar Muhammad Saw, tak lebjh dari itu.

Dalam hadis qudsi sungguh telah dijelaskan bahwa afirmasi positif saja tidaklah cukup, kita butuh dzikir untuk memberikan makna dan nyawa pada kalimat dan tindakan positif itu. Karena Allah akan membersamai cita-cita kita itu. Kalimat positif, percaya diri dan kesungguhan dalam mencapai sesuatu ternyata masih membutuhkan satu lagi agar kesemuanya lebih bermakna dan berkualitas yaitu dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah.

Mulai sekarang mari kita belajar memulai sebelum memulai sesuatu dengan Dzikir terlebih dahulu; guru sebelum mengajar berdzikir, agar kalimatnya lebih bermakna dan agar ada kalimat tuhan yang terselib pada setiap kata kita saat mengajar, dari situlah Allah kirimkan cahaya ilahi (nur), sebelum buka toko untuk berjualan kita dzikir, agar dibersamai Allah, alhasil laris atau tidak itu tetap bermakna ibadah, dan pasti Allah berikan keberkahan dari setiap rupiah yang kita dapatkan.

Dzikir dan ngaji, keduanya adalah pondasi kehidupan kita, bisa dikatakan pondasi kesuksesan, rasanya tanpa keduanya seperti mustahil kita meraih kesuksesan dengan sempurna. Ngaji itu bukan mengambil manfaat dari guru saja, ngaji itu adalah latihan mendisiplinkan diri kita terutama ruhani. Ngaji itu perintah Allah yang memberi ilmu adalah Allah, yang mentakdirkan kita bisa ngaji adalah Allah dan yang akan akan mengurai dan menyelesaikan persoalan kita adalah Allah. Mari bergerak ngaji dan terus dimuqoddimahi dengan dzikir. Pasti Sukses. Pasti tercapai segala mimpi dan cita-cita. Percayalah, peganglah !

CATEGORIES

Dawuh Gus Fah

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *